Rabu, 15 Oktober 2025, menjadi hari yang penuh semangat bagi seluruh siswa kels 5 SDK Maranatha. Sejak pukul 06.30 WITA, anak-anak berkumpul di halaman sekolah dengan wajah ceria dan ransel di punggung. Mereka bersiap mengikuti kegiatan Field Trip Edukatif yang diselenggarakan oleh Yayasan Flora Fauna Bumi Lestari bekerja sama dengan pihak Taman Nasional Bali Barat (TNBB).
Kegiatan ini bertujuan menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini kepada para siswa, agar mereka mencintai dan menjaga kelestarian alam ciptaan Tuhan.Sekitar pukul 07.00 WITA, rombongan berangkat menggunakan bus menuju kawasan Taman Nasional Bali Barat, salah satu kawasan konservasi terbesar di Bali yang terkenal dengan keanekaragaman flora dan faunanya.
Setibanya di lokasi, para siswa disambut oleh tim edukator dari Yayasan Flora Fauna Bumi Lestari yang memimpin kegiatan hari itu. Suasana pagi di hutan savana Gilimauk begitu sejuk dan alami. Burung-burung berkicau riang, rumput hijau bergoyang lembut diterpa angin, dan matahari pagi menyinari wajah ceria para peserta.
Kegiatan pertama dimulai dengan aksi peduli lingkungan, yaitu pembersihan sampah plastik di kawasan hutan savana Gilimanuk. Anak-anak dibagi menjadi beberapa kelompok kecil, masing-masing dilengkapi dengan sarung tangan, karung, dan penjepit sampah. Mereka bergerak menyusuri area padang rumput sambil memungut sampah plastik, botol, dan bungkus makanan yang berserakan di sekitar jalur wisata.
Dengan penuh semangat, para siswa saling berlomba untuk mengumpulkan sampah terbanyak. Setiap karung yang terisi membuat mereka semakin sadar akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
“Kalau sampah plastik dibuang sembarangan, hewan bisa sakit dan tanah jadi kotor,” ujar Pak Guru Made salah satu guru SDK Maranatha, sambil mengangkat botol bekas yang ditemukannya.
Kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran langsung tentang bahaya pencemaran lingkungan dan pentingnya pengelolaan sampah. Para edukator dari Yayasan Flora Fauna Bumi Lestari menjelaskan bahwa sampah plastik membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai, sehingga harus dikurangi penggunaannya sejak dini. Kegiatan ini membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil, bahkan oleh anak-anak sekolah dasar.
Setelah kegiatan pembersihan lingkungan, rombongan melanjutkan perjalanan menuju penangkaran burung Curik Bali di dua lokasi penting Labuan Lalang dan Cekik. Curik Bali atau Leucopsar rothschildi merupakan burung endemik Bali yang sangat langka dan menjadi simbol kebanggaan masyarakat Bali. Melalui kegiatan ini, anak-anak diajak untuk mengenal dan memahami pentingnya upaya pelestarian satwa langka.
Di Labuan Lalang, para siswa disambut oleh petugas konservasi yang menjelaskan bagaimana proses penangkaran, pemberian pakan, dan pelepasliaran Curik Bali ke alam liar. Anak-anak tampak kagum melihat keindahan bulu putih burung tersebut yang dihiasi jambul elegan dan warna biru di sekitar matanya. Salah satu edukator menjelaskan,“Curik Bali pernah hampir punah karena perburuan liar, tapi berkat kerja keras banyak pihak, jumlahnya kini mulai meningkat. Karena itu, kita semua harus menjaga alam agar Curik Bali tetap bisa hidup bebas di habitatnya.”
Rombongan kemudian melanjutkan pengamatan ke Cekik, di mana siswa belajar mengenali perbedaan habitat dan perilaku burung. Beberapa siswa beruntung dapat melihat langsung Curik Bali beterbangan di kandang besar penangkaran. Momen ini menjadi pengalaman berharga bagi mereka – belajar tidak hanya dari buku, tapi juga dari alam yang hidup.
Setelah kegiatan pengamatan, para peserta berkumpul di area peristirahatan untuk makan siang bersama. Makanan yang disiapkan panitia sederhana namun lezat- nasi kotak dengan lauk ayam goreng, sayur, buah, dan air mineral. Suasana makan siang terasa hangat dan penuh kekeluargaan. Anak-anak duduk beralaskan tikar di bawah pepohonan rindang, sambil berbagi cerita tentang pengalaman mereka sepanjang pagi.
Usai makan siang, kegiatan dilanjutkan dengan games edukatif dan permainan kelompok yang dipandu oleh tim Yayasan Flora Fauna Bumi Lestari. Beberapa permainan yang dimainkan antara lain “Tebak Satwa,” “Estafet Alam,” dan “Jejak Lingkungan.”Selain menghibur, permainan ini juga mengandung pesan moral tentang kerja sama, tanggung jawab, serta kecintaan terhadap alam.
Sorak tawa dan tepuk tangan menggema di kawasan itu. Anak-anak SDK Maranatha tampak sangat menikmati setiap kegiatan. Bahkan beberapa guru turut serta bermain, menambah keakraban antara peserta, pembina, dan panitia.
Menjelang sore, seluruh kegiatan Field Trip diakhiri dengan sesi refleksi singkat. Perwakilan dari Yayasan Flora Fauna Bumi Lestari mengajak anak-anak untuk merenungkan kembali makna dari kegiatan hari itu bahwa alam adalah sahabat yang harus dijaga, bukan dieksploitasi. Guru penamping dari SDK Maranatha, Bapak I Made Widnyana, S.Pd., menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada pihak yayasan dan pengelola Taman Nasional Bali Barat atas kesempatan berharga ini.
Sebelum pulang, seluruh peserta berfoto bersama di depan papan bertuliskan “Taman Nasional Bali Barat. Bus kembali ke Blimbingsari dengan suasana gembira. Di dalam perjalanan, anak-anak masih bercerita tentang Curik Bali, hutan savana, dan betapa pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Kegiatan Field Trip ini bukan sekadar jalan-jalan, tetapi sebuah pembelajaran hidup tentang cinta alam, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama makhluk hidup.
Dengan demikian, Field Trip SDK Maranatha 2025 menjadi bukti nyata bahwa pendidikan lingkungan dapat ditanamkan dengan cara yang menyenangkan dan bermakna — menjadikan siswa bukan hanya pintar, tetapi juga berkarakter peduli dan beriman kepada Sang Pencipta.



