Menjadi Ranting yang Berbuah Sukacita

Menjadi Ranting yang Berbuah Sukacita – Formasi Salib 100 Penari Carang Anggur Pukau Ribuan Peserta FUN BIKE vol. 2 PBKW GKPB.

Blimbingsari, Harum semerbak bunga dan alunan tabuh yang dinamis memecah keheningan pagi di Desa Wisata Blimbingsari, Kecamatan Melaya, Jembrana, pada Sabtu (2/5/2026). Di bawah langit yang cerah, sebanyak tiga puluh murid putri Sekolah Dasar Kristen (SDK) Maranatha melangkah anggun dengan senyum merekah. Bersama puluhan penari lainnya, mereka menggenapi formasi seratus Penari Carang Anggur dalam rangkaian acara Fun Bike Persekutuan Bapak Krisna Winangun (PBKW) Sinode Gereja Kristen Protestan di Bali (GKPB) yang mengusung tema “Ride for Glory”.

            Pementasan kolosal tersebut tampil begitu hidup berkat iringan gamelan langsung dari Sekaha Gong El Semara GKPB Pniel Blimbingsari. Harmoni musik tradisional Bali yang bertalu dinamis berhasil membawa seluruh penonton dan sekitar 1.200 peserta bersepeda larut dalam suasana magis yang penuh sukacita. Dipandu oleh I Made Widnyana selaku Koordinator Seksi Acara yang menginisiasi pementasan ini, momen tersebut sukses menjadi magnet utama sepanjang pelaksanaan kegiatan.

            Kemeriahan acara berskala sinodal ini turut disaksikan langsung oleh jajaran undangan VIP yang hadir memberikan dukungan penuh. Di antaranya adalah Bupati Jembrana yang diwakili oleh Bapak Asisten 1, Bishop GKPB, serta Bendahara GKPB. Hadir pula unsur Muspika (Musyawarah Pimpinan Kecamatan) Kecamatan Melaya yang memberikan apresiasi tinggi terhadap kolaborasi apik antara olahraga, budaya, dan spiritualitas.

            Keterlibatan aktif 30 siswi SDK Maranatha dalam momentum ini merupakan wujud nyata dari sinergisitas tiga pilar utama lembaga GKPB, yaitu Sekolah, Gereja, dan Masyarakat. Kehadiran mereka membuktikan bagaimana lembaga pendidikan Kristen, persekutuan gereja melalui wadah PBKW, dan masyarakat Desa Wisata Blimbingsari dapat berjalan beriringan. Kolaborasi harmonis ini menciptakan ruang positif bagi generasi muda untuk bertumbuh, melayani, dan berdampak langsung bagi lingkungan sekitar sejak dini.

            Pementasan ini terasa semakin sakral karena membawakan Tari Carang Anggur, sebuah karya fenomenal dari Pendeta Dr. I Nyoman Yohanes, M.Th., M.Pd. Momentum ini sekaligus menjadi kebanggaan tersendiri bagi pihak sekolah, lantaran Pendeta I Nyoman Yohanes merupakan salah satu alumni terbaik dari SDK Maranatha. Melalui sentuhan karya beliau, seni tari Bali diadopsi secara kontekstual menjadi media liturgi yang berakar kuat di lingkungan GKPB.

            Saat ketukan gamelan Sekaha Gong El Semara mencapai puncaknya, ke-30 siswi SDK Maranatha bergerak serempak mengikuti warisan karya sang alumni. Jemari mereka lentik menari, menirukan carang-carang (ranting) anggur yang tumbuh subur dan saling bertautan. Setiap ayunan langkah dan lambaian tangan mereka secara visual menggambarkan bagaimana orang Kristen dipanggil untuk melekat erat pada Sang Pokok Anggur yang Benar, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Tarian ini menyampaikan pesan teologis mendalam bahwa umat percaya adalah ranting yang tidak bisa hidup sendiri, melainkan harus terus mengalirkan kasih dan damai sejahtera dari Kristus.

            Puncak kekhusyukan dan kemegahan pementasan terjadi saat 100 penari secara perlahan dan presisi melebur membentuk formasi sebuah salib raksasa. Formasi salib yang agung ini menjadi simbol pengorbanan, kemenangan, dan pusat dari iman Kristen. Melalui ekspresi wajah para penari cilik yang penuh binar kebahagiaan di dalam formasi salib tersebut, pesan sukacita surgawi tersampaikan tanpa kata kepada setiap pasang mata yang menyaksikan. Pementasan ini mengingatkan jemaat bahwa melalui salib Kristus, tugas setiap orang percaya adalah menjadi pembawa kabar baik (Good News) yang menghasilkan buah manis dan menyegarkan bagi sesama.

            “Sebagai bagian dari pengemasan acara, kami ingin anak-anak ini menjadi carang-carang muda yang hidup. Lewat gerak tari dari karya indah Pendeta I Nyoman Yohanes, iringan Sekaha Gong El Semara, hingga pembentukan formasi salib, mereka sedang mengabarkan bahwa ada sukacita yang besar di dalam Tuhan Yesus,” ujar I Made Widnyana selaku Koordinator Seksi Acara dan juga merupakan guru SDK Maranatha dengan penuh haru saat ditemui di sela-sela acara.

            Pementasan kolosal ini ditutup dengan transisi indah dari formasi salib menuju lingkaran besar yang melambangkan kesatuan tubuh Kristus yang utuh. Tepuk tangan riuh langsung bergemuruh dari para undangan, 1.200 pesepeda, dan warga, menandai bahwa pesan kasih dan semangat “Ride for Glory” hari itu telah tertanam kuat di hati setiap orang. (Red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *