“Kesehatan Mental Guru, Orang Tua/Wali, dan Pencegahan Perundungan” – Catatan dari Ruang Refleksi Kombel Abraham SDK Maranatha Bersama Bali Children Project

BLIMBINGSARI, Jarum jam baru saja melewati angka sembilan pagi ketika aula pertemuan SDK Maranatha di Desa Wisata Blimbingsari mulai senyap, Senin (27/4/2026). Di luar, angin sepoi-sepoi khas pedesaan Melaya, Jembrana, berembus tenang. Namun di dalam ruangan, ada kehangatan yang berbeda. Puluhan pasang mata tertuju pada satu panggung kecil yang pagi itu diubah menjadi mimbar kesadaran kolektif.
Hari itu, Komunitas Belajar (Kombel) Abraham SDK Maranatha memecah keheningan dengan sebuah respons nyata terhadap tantangan zaman melalui workshop bertajuk: “Kesehatan Mental Guru, Orang Tua/Wali, dan Pencegahan Perundungan”. Langkah ini merupakan wujud nyata kepedulian terhadap jeritan hati yang sering kali tak terdengar di lorong sekolah dan sudut rumah. Kombel Abraham berhasil menyatukan para penjaga gerbang masa depan anak-anak: guru-guru TK Fajarsari, pimpinan dan staf Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Widhya Asih Blimbingsari, serta para orang tua dan wali murid SDK Maranatha. Mereka duduk berdampingan, menyadari bahwa di era modern ini anak-anak tidak hanya membutuhkan limpahan angka di rapor, melainkan sebuah lingkungan sekolah dan rumah yang aman dan nyaman secara emosional.
Alur cerita workshop mengalir semakin dalam ketika Ibu Gusti Ayu Ketut Mahardiyani, M.Pd. melangkah ke depan. Hadir sebagai representasi dari Yayasan Bali Children Project, beliau tidak membawa tumpukan teori kaku, melainkan sebuah cermin refleksi bagi seluruh peserta. “Pernahkah kita bertanya, mengapa anak kita tiba-tiba berteriak di kamar? Atau mengapa seorang siswa mendadak agresif di halaman sekolah?” tanya Ibu Gusti Ayu lembut, memecah kesunyian aula.
Dengan untaian kalimat penuh empati, beliau memaparkan bahwa orang dewasa tidak bisa memberikan ketenangan jika di dalam diri mereka sendiri sedang menyimpan badai. Tuntutan profesi bagi guru dan beban ekonomi bagi orang tua sering kali memicu kelelahan mental akut (burnout). Ketika kondisi ini diabaikan, respons orang dewasa kepada anak cenderung menjadi reaktif dan penuh emosi negatif.
Anak-anak sebagai peniru ulung akan menghirup atmosfer ketegangan tersebut, menyerapnya, dan kerap memproyeksikannya kembali di sekolah dalam bentuk perilaku intimidasi atau perundungan kepada teman sebaya. Melalui teknik mindful breathing (relaksasi pernapasan) yang dipraktikkan bersama, para peserta disadarkan bahwa menjaga kesehatan mental diri sendiri adalah prasyarat mutlak sebelum mereka merawat jiwa anak-anak.
Anatomi Perundungan dan Sinergisitas Tiga Pilar
Memasuki paruh kedua, Ibu Gusti Ayu Ketut Mahardiyani, M.Pd. membedah anatomi perundungan (bullying) dengan sangat gamblang. Beliau mengingatkan bahwa kalimat “ah, itu cuma candaan anak-anak” adalah pembiaran yang berbahaya bagi masa depan kelangsungan psikologis anak.
Beliau memetakan tiga warna kelam perundungan yang harus diwaspadai:
- Luka Kata (Verbal): Ejekan nama, hinaan fisik, atau panggilan negatif yang merubuhkan rasa percaya diri anak.
- Luka Fisik: Dorongan, pukulan, hingga tindakan intimidasi fisik di area-area tersembunyi.
- Luka Sunyi (Relasional): Pengucilan sistematis dan penyebaran desas-desus yang membuat anak merasa tak berharga.
Guru dan orang tua diajak untuk jeli melihat tanda-tanda sunyi seperti perubahan drastis pada perilaku anak yang mendadak pendiam atau enggan ke sekolah. Di sinilah letak pentingnya sinergisitas tiga pilar utama lembaga GKPB, yaitu Sekolah, Gereja, dan Masyarakat.
Kehadiran staf LKSA Widhya Asih Blimbingsari membuktikan bahwa pendekatan kesehatan mental ini menjadi air segar bagi pemulihan pengasuhan anak-anak dengan latar belakang trauma sosial. Sementara itu, kehadiran guru-guru TK Fajarsari menegaskan bahwa penanaman karakter anti-perundungan harus dimulai sejak usia dini. Ketika anak usia dini diajarkan menghargai ruang pribadi temannya, benih kekerasan tidak akan tumbuh saat mereka melanjutkan pendidikan ke SDK Maranatha atau sekolah lainya.
Berbuah Manis di Akhir Jalan
Sesi dialog interaktif menjadi muara dari seluruh emosi yang terbangun. Ruangan dipenuhi kejujuran saat para orang tua berkonsultasi mengenai tantangan pola asuh di era digital, di mana jemari anak-anak di layar gawai kini rentan terperosok dalam cyberbullying. Setiap jawaban taktis dari narasumber menjadi lentera kecil yang menerangi keraguan di hati para peserta.
Rangkaian panjang workshop edukatif ini berjalan dengan sangat baik, tertib, dan lancer bahkan melampaui ekspektasi awal penyelenggara. Udara aula yang sempat terasa berat oleh beban diskusi, berganti menjadi atmosfer penuh kelegaan dan optimisme baru.
Acara diakhiri sesi foto bersama. Hari itu, Kombel Abraham SDK Maranatha telah menanam komitmen abadi di tanah Blimbingsari bahwa sekolah, rumah, dan masyarakat akan berdiri teguh bersama, menjaga kesehatan mental anak-anak, dan memastikan tidak ada lagi tempat bagi perundungan di bawah langit Jembrana. (Red)


