Berita Kegiatan Pelatihan Guru Pelindung Anak Kabupaten Jembrana 2025

SDK Maranatha Ikuti Pelatihan Guru Pelindung Anak Kabupaten Jembrana 2025
Jembrana, 17 September 2025

Dalam rangka memperkuat peran guru sekolah dasar sebagai pelindung anak dari berbagai bentuk kekerasan, khususnya kekerasan seksual dan perundungan, Bali Children’s Project menyelenggarakan Pelatihan Guru Pelindung Anak Kabupaten Jembrana Tahun 2025. Kegiatan ini berlangsung pada Rabu, 17 September 2025, dengan menghadirkan narasumber utama Gusti Ayu Ketut Mahardiyani, M.Pd.

Pelatihan ini diikuti oleh sejumlah guru dari berbagai sekolah dasar di Kabupaten Jembrana, termasuk perwakilan dari SDK Maranatha melalui I Made Widnyana, S.Pd., selaku guru bidang kesiswaan dan humas sekolah.

Dengan mengusung tema “Peningkatan Kapasitas Guru Sekolah Dasar dalam Edukasi Perlindungan Anak dari Kekerasan Seksual dan Perundungan”, kegiatan ini diharapkan mampu memberikan pemahaman yang lebih mendalam kepada para pendidik tentang pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.

Dalam paparannya, Gusti Ayu Ketut Mahardiyani, M.Pd. menekankan bahwa guru tidak hanya berperan sebagai pendidik akademik, tetapi juga sebagai figur penting dalam perlindungan dan pengasuhan anak. Guru menjadi garda terdepan dalam mendeteksi, mencegah, sekaligus memberikan edukasi kepada peserta didik mengenai hak-hak anak serta bahaya kekerasan seksual maupun perundungan.

Anak-anak berhak tumbuh dalam lingkungan yang aman. Guru harus peka terhadap tanda-tanda kekerasan, membangun komunikasi yang sehat dengan peserta didik, serta berani melaporkan bila menemukan indikasi kasus kekerasan,” tegasnya.

Materi pelatihan mencakup beberapa aspek penting, antara lain:

  1. Pemahaman konsep perlindungan anak sesuai regulasi nasional dan internasional.
  2. Strategi pencegahan kekerasan seksual di lingkungan sekolah.
  3. Penanganan kasus perundungan (bullying) dengan pendekatan edukatif.
  4. Teknik komunikasi efektif antara guru, orang tua, dan siswa.
  5. Penyusunan program sekolah ramah anak yang melibatkan seluruh warga sekolah.

Para peserta diberikan kesempatan berdiskusi interaktif, berbagi pengalaman, serta melakukan simulasi dalam menghadapi kasus nyata yang mungkin muncul di sekolah.

Kegiatan ini tidak hanya berhenti pada pelatihan sehari. Sesuai dengan rencana, hasil pelatihan akan ditindaklanjuti melalui program pengimbasan dan diseminasi di satuan pendidikan masing-masing peserta. Selama enam bulan ke depan, guru yang telah mendapatkan pelatihan akan mengimplementasikan pengetahuan yang diperoleh dengan mengajar dan membimbing di sekolah masing-masing.

Melalui mekanisme ini, diharapkan tidak hanya peserta pelatihan yang merasakan manfaat, tetapi juga seluruh guru dan tenaga kependidikan di sekolah asal, bahkan meluas ke masyarakat sekitar. SDK Maranatha, yang diwakili oleh I Made Widnyana, S.Pd., menyatakan kesiapannya untuk mengimbaskan hasil pelatihan kepada guru-guru di lingkungan sekolah sebagai bentuk komitmen nyata dalam mendukung terciptanya sekolah yang aman dan ramah anak.

Kami percaya bahwa pendidikan tidak hanya tentang ilmu pengetahuan, tetapi juga tentang membangun karakter dan melindungi hak-hak anak. Dengan pelatihan ini, kami semakin mantap melangkah untuk menciptakan sekolah yang bebas dari kekerasan,” ungkap I Made Widnyana, S.Pd.

Dengan adanya pelatihan ini, Kabupaten Jembrana semakin menunjukkan keseriusannya dalam mengedepankan perlindungan anak di lingkungan pendidikan dasar. Diharapkan ke depan, anak-anak Jembrana dapat bertumbuh dalam suasana belajar yang penuh kasih, aman, dan bermartabat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *